Sunday, May 9, 2010 By: Rustanto

Jadilah orang berhati burung

"Akan masuk surga, orang-orang yang hatinya seperti hati burung." (HR. Muslim)

Di antara penjelasan ulama tentang 'hati burung' yang dimaksud dalam
hadits di atas adalah hati yang sangat halus dan lembut serta penuh
kasih sayang, jauh dari sifat keras dan zalim.

Hati, adalah keistimewaan yang kita miliki sebagai manusia. Hati pula
yang sangat menentukan baik buruknya nilai diri kita, sebagaimana telah
dinyatakan dalam sebuah hadits Rasulullah saw.

Merupakan perkara yang sangat penting bagi kita memelihara dan
menumbuhkan kelembutan dan kepekaan terhadap perkara yang terjadi di
sekeliling kita. Di sini kita tidak berbicara tentang kaedah hukum, hak
dan kewajiban, dalil dan argumentasi, atau apalah namanya. Kita
berbicara tentang perasaan yang secara fitrah dimiliki semua orang,
namun dalam batasan tertentu, dapat bereaksi lebih cepat dan efektif,
ketimbang faktor lainnya.

Kelembutan hati dan rasa kasih sayang seorang ibu, misalnya, membuatnya
tidak akan dapat tidur nyenyak meski kantuk berat menggelayuti matanya.
Manakala dia mendengar rengekan bayinya di malam buta, maka dia bangun
dan memeriksa kebutuhan sang bayi. Boleh jadi ketika itu dia tidak
berpikir tentang keutamaan atau janji pahala orang tua yang mengasihi
anaknya.

Umar bin Khattab yang dikenal berkepribadian tegas, ternyata hatinya
begitu lembut ketika melihat seorang nenek memasak batu hanya untuk
menenangkan rengekan tangis cucunya yang lapar sementara tidak ada lagi
makanan yang dapat dimasaknya. Maka tanpa mengindahkan posisinya
sebagai kepala Negara, dia mendatangi baitul mal kaum muslimin dan
memanggul sendiri bahan makanan yang akan diberikannya kepada sang
nenek. Boleh jadi ketersentuhan hati Umar kala itu mendahului kesadaran
akan besarnya tanggungjawab seorang pemimpin di hadapan Allah Ta'ala.
Demikianlah besarnya potensi kelembutan hati menggerakkan seseorang.

Kelembutan hati semakin dibutuhkan bagi mereka yang Allah berikan
posisi lebih tinggi di dunia ini. Seperti suami kepada isteri dan
anaknya, pemimpin atau pejabat kepada rakyatnya atau orang kaya
terhadap orang miskin. Sebab, betapa indahnya jika kelembutan hati
berpadu dengan kewenangan dan kemampuan yang dimiliki. Karena memiliki
kewenangan dan kemampuan, suami berhati lembut –misalnya- akan sangat
mudah mengekspresikannya kepada isteri dan anaknya, bukan hanya terkait
dengan kebutuhan materi, tetapi juga bagaimana agar suasana kejiwaan
mereka tenang dan bahagia, tidak tersakiti, apalagi terhinakan. Begitu
pula halnya bagi pemimpin kepada rakyatnya, pejabat atau orang kaya
kepada orang-orang papa.

Akan tetapi, jika kelembutan itu telah sirna berganti dengan hati yang
beku, keras dan tidak sensitif, sungguh yang terjadi adalah pemandangan
yang sangat miris dan sulit diterima akal. Bagaimana dapat seorang
suami menelantarkan atau menyakiti isteri dan anaknya padahal mereka
adalah belahan dan buah hatinya, bagaimana pula ada pemimpin atau
pejabat yang berlomba-lomba mereguk kesenangan dan kemewahan dunia di
atas penderitaan rakyatnya dengan segudang dalih dan alibinya, padahal
mereka dipilih rakyatnya, lalu bagaimana si kaya bisa tega
mempertontonkan kekayaannya di hadapan si miskin yang papa tanpa
sedikitpun keinginan berbagi, padahal Rasulullah saw katakan, 'Kalian
dibela dan diberi rizki karena orang lemah di antara kalian.' Sungguh
mengerikan!

Di zaman ketika materi dan tampilan lahiriah semakin dipuja-puja,
sungguh kita semakin banyak membutuhkan manusia berhati burung!

Masih terngiang-ngiang di telinga, doa para imam dalam qunut witir
bulan Ramadan di masjid-masjid kota Riyadh, 'Allahumma laa tusallitt
alaina man laa yakhaafuka fiina wa laa yarhamunaa….. ya Allah, jangan
berikan kami pemimpin yang tidak takut kepadaMu dalam urusan kami dan
yang tidak mengasihi kami……' aamiiin…

Riyadh, Jumadal Ula 1431H
Abdulah Haidir
(diambil dari postingan Mauludi Ariesto di milist Muslim Korea)

0 komentar:

Post a Comment