Thursday, November 11, 2010 0 komentar By: Rustanto

5 Aturan untuk Perut Langsing

Jumat, 12/11/2010 | 09:15 WIB
KOMPAS.com - Untuk membentuk perut yang langsing, tak cukup hanya mengandalkan olahraga saja. Anda juga perlu lebih cermat memilih jenis makanan yang bisa membuat perut Anda kenyang lebih lama, sehingga Anda tak tergoda untuk makan berlebihan. Berikut di antaranya:
1. Camilan: Kacang almon
Ketika hasrat ngemil datang, jangan membeli biskuit atau keripik. Sebaliknya, coba ambil kacang-kacangan. Hasil studi terbaru dari UCLA menunjukkan bahwa wanita yang menyamil kacang-kacangan, ternyata dapat menyusutkan ukuran lingkar pinggangnya 50 persen lebih banyak daripada mereka yang tidak. Itulah sebabnya, ngemil kacang almon jauh lebih baik ketimbang ngemil biskuit, keripik, atau popcorn.
2. Lebih kenyang: Protein
Alih-alih menyantap makanan berlemak, lebih baik pilih protein. Jumlah kalori di dalam protein 50 persen lebih sedikit dibanding dengan jumlah kalori yang ada di dalam lemak (dalam porsi yang sama). Jumlah kalori yang ada pada protein sama dengan karbohidrat. Tetapi protein lebih lambat dicerna oleh lambung sehingga kita akan merasa kenyang lebih lama. Selain itu, protein juga mampu menurunkan produksi hormon ghrelin yang memicu nafsu makan.
Penelitian di Denmark terhadap 60 relawan membuktikan bahwa mereka yang porsi makanannya mengandung 25 persen kalori per hari dapat meluruhkan lebih banyak lemak hingga 12 persen. Sertakan sumber protein tanpa lemak seperti dada ayam rebus tanpa kulit, yogurt, atau ikan laut, setiap kali makan.
3. Wajib: Serat
"Pencernaan yang lambat menyebabkan sirkulasi glukosa ikut melambat dan produksi insulin lebih sedikit. Walhasil, lemak yang menumpuk di perut bagian bawah juga jadi tidak banyak," kata Marie Saverd, MD, penulis buku The Body Shape Solution to Weight Loss and Wellness. Studi terhadap 2.900 relawan membuktikan bahwa relawan yang makan 25 gr serat setiap hari, dapat menurunkan berat badan lebih banyak dibandingkan dengan relawan yang menyantap serat kurang dari 25 gr per hari.
4. Jauhi: Pemanis buatan
Penelitian Purdue University membuktikan bahwa pemanis buatan lebih berisiko menyebabkan kegemukan ketimbang pemanis alami. Menurut data peneliti, pemanis buatan dapat menurunkan kemampuan tubuh mengenali rasa manis. Akhirnya, kita justru jadi terdorong makan yang manis-manis dalam jumlah lebih banyak.
5. Buang: Makanan tinggi kalori
Olahraga akan memberi hasil maksimal jika diikuti dengan pola makan yang baik. Dengan menyingkirkan makanan tinggi kalori, seperti cafe latte favorit, nasi, dan keju, otomatis jumlah asupan kalori kita jadi lebih sedikit. Padukan dengan program latihan secara teratur, maka berat badan akan turun sebanyak 15-22 kg dalam setahun.
(Prevention Indonesia/Selene Yeager/Lily Turangan)
Dikutip dari http://female.kompas.com/read/xml/2010/11/12/09152961/5.Aturan.Makan.untuk.Perut.Langsing-5
Thursday, May 27, 2010 0 komentar By: Rustanto

Kayu Manis Turunkan Gula Darah


Kamis, 20 Mei 2010 | 08:05 WIB

Kayu manis bisa jadi alternatif pengganti gula pada minuman. Aroma wangi dari kulit kayu manis (Cassiavera) membuat tanaman rempah ini menjadi primadona sebagai penyedap kue dan minuman. Beberapa tahun terakhir ini, para ilmuwan berhasil mengungkap khasiat lain dari kayu manis, yakni menurunkan kadar gula darah.

Kayu manis atau cinnamon memiliki kandungan berbagai senyawa kimia, yaitu minyak atsiri eugenol, safrole, juga kandungan sinamaldehyde, tanin, kalsium oksalat, damar, dan penyamak.

Menurut Dr dr Amarullah Siregar, kayu manis memiliki efek biomolekuler di pankreas. "Kayu manis mengandung senyawa kimia yang disebut PTP1B yang bekerja mengaktifkan senyawa di pankreas dengan cara mengaktifkan sel beta yang berfungsi menghasilkan insulin," ujarnya.

Selanjutnya insulin akan membuka pintu sel darah merah sehingga gula bisa masuk dan diubah menjadi energi. Penderita diabetes tipe sensitivitas tubuh terhadap insulin berkurang sehingga kadar gula darah tetap tinggi karena tidak bisa masuk ke dalam sel.

Senyawa PTP1B juga akan bekerja di sel alfa yang berfungsi membantu hati menghasilkan glikogen. "Sel ini mengubah gula menjadi glikogen atau cadangan energi," kata Amarullah, pakar pengobatan naturopati.

Ia menambahkan, berbeda dengan obat-obat diabetes langsung menurunkan gula darah, obat herbal seperti kayu manis bekerja dengan cara mengoptimalisasi fungsi organ tubuh yang masih baik. "Kenaikan kadar gula darah hanyalah simptom dari gangguan insulin. Sumbernya merupakan pankreas yang bermasalah. Karena itu, fungsi pankreas harus diperbaiki," katanya

Diambil dari http://kesehatan.kompas.com/read/2010/05/20/08054828/Kayu.Manis.Turunkan.Gula.Darah
Wednesday, May 26, 2010 0 komentar By: Rustanto

Alat Deteksi Kebohongan

Tidak perlu detektor canggih untuk mengetahui jika kekasih Anda sedang berbohong atau tidak. Cukup perhatikan gerak-geriknya seperti yang disarankan Cosmopolitan berikut ini. Dan bagi para pembohong, Anda juga wajib membaca agar bisa memberi gaya tubuh yang lebih terpercaya saat sedang mengarang cerita nanti!

1) Ke atas dan ke kiri
Coba perhatikan bagaimana bahasa tubuh si dia saat akan menjawab pertanyaan Anda. Jika matanya bergerak ke kanan, ia sedang berusaha mengingat-ingat kejadian. Tapi jika ia melihat ke atas lalu ke kiri, ia sedang mengarang jawaban yang pas.

2) Bermain hidung dan telinga
Sudah jelas, ia tidak punya alergi apa-apa. Tapi si dia terus-menerus memainkan telinga dan hidung. Mungkin ia sedang alergi bohong! Saat sedang berbohong, darah akan mengalir lebih banyak pada wajah, membuat hidung dan telinga terasa lebih hangat dan menjadi gatal.

3) Geser ke kiri, geser ke kanan
Miungkin ia hanya sekadar gugup saat menggeser-geser kursi atau mengetukkan jemari. Tapi sebagai seseorang yang curiga, bisa saja kegugupan ini terjadi karena si dia sedang berbohong.

4) Tutup mulut!
Saat seseorang sedang berusaha menghalau kebenaran keluar dari mulut, secara tak sadar ia akan menghalangi mulutnya dengan tangan. Selain itu, si dia mungkin akan menjilat bibirnya sendiri dan berusaha mengalihkan pandangan dari Anda, ke bawah dan ke kanan. (mg)

disadur dari Tim Editorial Yahoo.com
Tuesday, May 25, 2010 0 komentar By: Rustanto

Lihatlah Abu Mijan

Abu Mijan ats-Tsaqafi radhiallahu ‘anhu adalah orang yang tidak kuat menahan keinginannya jika melihat khamr, sehingga dia sering dihadapkan kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk dikenakan hukuman had. Walaupun demikian, ketika ia mendengar seruan jihad ke Qadisiyah, dia segera bangkit untuk bejihad di bawah pimpinan Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu ‘anhu. Ketika pada hari-hari pertempuran, dia kembali tidak mampu menahan keinginannya ketika melihat khamr, sehingga dia pun meminumnya. Oleh karena itu, Sa’ad menjatuhkan hukuman atasnya dengan menggurungnya dan melarangnya ikut peperangan, karena hukuman had tidak dilaksanakan di daerah musuh.

Ketika ditahan, dia mendengar suara pertempuran yang memanas dan teriakan para ksatria, maka air matanya pun mengalir, karena kedatangannya ke al Qadisiyah adalah untuk mendapatkan kemuliaan mengikuti pertempuran. Ketika itu istri Sa’ad melihatnya, dia pun merasa kasihan terhadap Abu Mihjan. Sedangkan Sa’ad radhiallahu ‘anhu saat it sedang sakit, dan itu adalah sakit terakhir yang membuatnya tidak bisa turun untuk berperan, sehingga dia mengatur peperangan dari tempat tidurnya.

Lalu Abu Mihjan berkata kepada istri Sa’ad, “Wahai Salma, berikan kepadaku kuda Sa’ad, Balqa, dan berikan kepadaku senjata Sa’ad. Demi Allah, jika Allah menakdirkan aku untuk tetap hidup, maka aku akan kembali ke tempat tahanan ini dan aku ikatkan kembali kekang yang mengikat kakiku. Dan jika aku mati, maka itulah yang aku harapkan.” Mendengar ketulusan Abu Mihjan tersebut, istri Sa’ad akhirnya mengabulkan keinginannya.

Dalam Peperangan

Kemudian Abu Mihjan mengenakan penutup wajah, lalu dia turun ke medan jihad. Abu Mihja adalah seorang kstaria yang terkenal dengan keberaniannya. Kemudian, ketika dia turun ke medan pertempuran, Sa’ad melihatnya dan merasa takjub dengan ksatria pemberani tersebut. Sa’ad pun berkata, “Jika saya tidak tahu kalau Abu Mihjan ada di dalam penjara, tentu akan saya katakan bahwa orang itu adalah Abu Mihjan. Jika saya tidak tahu dimana Balqa berada, tentu akan saya katakan bahwa kuda yang ditungganginya adalah si Balqa.”

Mendengar perkataan suaminya, istri Sa’ad pun berkata, “Engkau benar, wahai suamiku. Sesungguhnya dia adalah Abu Mihjan dan kuda yang ditungganginya adalah Balqa.”

Lalu Sa’ad pun menanyakan apa yang terjadi, dan istrinya menceritakan kejadian yang sesungguhnya. Mendengar penuturan istrinya, Sa’ad pun jatuh kasihan kepada Abu Mihjan.

Ketika peperangan usai, Abu Mihjan kembali ke dalam tahanan dan mengikatkan lagi kekang di kakinya sendiri. Kemudian Sa’ad masuk ke dalam penjara sambil menangis dan melepaskan kekang yang mengikat kaki Abu Mihjan, lalu berkata, “Demi Allah, saya tidak akan menghukummu lagi setelah hari ini.”

Maka Abu Mihjan pun menangis dan berkata, “Dan demi Allah saya tidak akan meminum khamr lagi setelah hari ini.”

Merekalah Orang-Orang yang Memahami Hakikat Memeluk Islam, sehingga Mereka Merealisasikannya di Dalam Kehidupan

Terkadang ada orang yang berkata, “Saya tidak pandai berpidato dan saya tidak bisa menyampaikan ceramah, lalu bagaimana saya bisa mempersembahkan sesuatu untuk Islam?”

Kami katakan kepadanya, “Anda tidak dimnta untuk menjadi penceramah, dan kita tidak menginginkan seluruh umat ini menjadi para ulama, para penceramah, atau para orator di atas mimbar.”

Apa pun Status Anda, Jadilah Muslim Hakiki!

Kami ingin anda merealisasikan hakikat kepemelukan anda terhadap Islam dalam status yang anda jalani. Seorang pelajar yang berprestasi, merealisasikan kepemelukannya terhadap Islam. Seorang tentara dan dokter yang menunaikan amanah mereka, merealisasikan kepemelukan mereka terhadap Islam. Seorang insinyur yang dapat dipercaya atas harta dan proyek-proyek umat Islam, merealisasikan kepemelukannya terhadap Islam. Istri yang ikhlas yang menunaikan tanggung jawabnya, menjaga amanahnya terhadap suami, memotivasinya untuk mencari yang halal, bersedekah, bermurah hati, dan bekerja dengan hati bersih, maka dia telah merealisasikan kepemelukannya terhadap Islam.

Jadilah Seorang Muslim yang Mengemban Cita-cita Islam Di Mana pun Anda Berada!

Sesungguhnya langkah pertama dalam merealisasikan hakikat kepemelukan kepada Islam adalah dengan mengemban cita-cita Islam di dalam hati kita. Kongkretnya adalah dengan memasukkan target-target dan cita-cita Islam di dalam target-target dan cita-cita kita. Jika salah seorang dari kita melakukan langkah pertama ini, maka dia pasti akan melakukan langkah kedua, yaitu meluangkan waktunya untuk mempelajari Islam dengan membaca buku-buku Islam yang benar dan mendengarkan para ulama rabbani serta para da’i yang jujur. Karena sesuatu yang mungkin paling berbahaya bagi seorang dalam mempelajari Islam adalah belajar dari orang yang tidak bertakwa kepada Allah ta’ala, sehingga dia pun belajar ilmu yang menyimpang jauh dari Islam. Oleh karena itu, anda harus mencari ulama-ulama yang rabbani tersebut, dan anda akan menemukannya, karena umat ini selamanya tidak akan pernah kosong dari mereka.

Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu meriwayatkan dari nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

“Sekelompok umatku akan tetap teguh menunaikan perintah Allah, tidak membahayakan mereka orang-orang yang membiarkan atau menentang mereka, hingga dating keputusan Allah dan mereka masih dalam keadaan demikian.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan mereka. Semoga Allah memberi taufik dan kemuliaan kepada kita untuk beramal demi agama ini, sesungguhnya Dia mahakuasa atas hal itu.

Akhirnya, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.
Bagus Muharyanto May 25, 2010 at 1:04pm
Subject: Apa Arti Hakikat Keislaman Saya 2?
Lihatlah Abu Mihjan!
Sunday, May 9, 2010 0 komentar By: Rustanto

Jadilah orang berhati burung

"Akan masuk surga, orang-orang yang hatinya seperti hati burung." (HR. Muslim)

Di antara penjelasan ulama tentang 'hati burung' yang dimaksud dalam
hadits di atas adalah hati yang sangat halus dan lembut serta penuh
kasih sayang, jauh dari sifat keras dan zalim.

Hati, adalah keistimewaan yang kita miliki sebagai manusia. Hati pula
yang sangat menentukan baik buruknya nilai diri kita, sebagaimana telah
dinyatakan dalam sebuah hadits Rasulullah saw.

Merupakan perkara yang sangat penting bagi kita memelihara dan
menumbuhkan kelembutan dan kepekaan terhadap perkara yang terjadi di
sekeliling kita. Di sini kita tidak berbicara tentang kaedah hukum, hak
dan kewajiban, dalil dan argumentasi, atau apalah namanya. Kita
berbicara tentang perasaan yang secara fitrah dimiliki semua orang,
namun dalam batasan tertentu, dapat bereaksi lebih cepat dan efektif,
ketimbang faktor lainnya.

Kelembutan hati dan rasa kasih sayang seorang ibu, misalnya, membuatnya
tidak akan dapat tidur nyenyak meski kantuk berat menggelayuti matanya.
Manakala dia mendengar rengekan bayinya di malam buta, maka dia bangun
dan memeriksa kebutuhan sang bayi. Boleh jadi ketika itu dia tidak
berpikir tentang keutamaan atau janji pahala orang tua yang mengasihi
anaknya.

Umar bin Khattab yang dikenal berkepribadian tegas, ternyata hatinya
begitu lembut ketika melihat seorang nenek memasak batu hanya untuk
menenangkan rengekan tangis cucunya yang lapar sementara tidak ada lagi
makanan yang dapat dimasaknya. Maka tanpa mengindahkan posisinya
sebagai kepala Negara, dia mendatangi baitul mal kaum muslimin dan
memanggul sendiri bahan makanan yang akan diberikannya kepada sang
nenek. Boleh jadi ketersentuhan hati Umar kala itu mendahului kesadaran
akan besarnya tanggungjawab seorang pemimpin di hadapan Allah Ta'ala.
Demikianlah besarnya potensi kelembutan hati menggerakkan seseorang.

Kelembutan hati semakin dibutuhkan bagi mereka yang Allah berikan
posisi lebih tinggi di dunia ini. Seperti suami kepada isteri dan
anaknya, pemimpin atau pejabat kepada rakyatnya atau orang kaya
terhadap orang miskin. Sebab, betapa indahnya jika kelembutan hati
berpadu dengan kewenangan dan kemampuan yang dimiliki. Karena memiliki
kewenangan dan kemampuan, suami berhati lembut –misalnya- akan sangat
mudah mengekspresikannya kepada isteri dan anaknya, bukan hanya terkait
dengan kebutuhan materi, tetapi juga bagaimana agar suasana kejiwaan
mereka tenang dan bahagia, tidak tersakiti, apalagi terhinakan. Begitu
pula halnya bagi pemimpin kepada rakyatnya, pejabat atau orang kaya
kepada orang-orang papa.

Akan tetapi, jika kelembutan itu telah sirna berganti dengan hati yang
beku, keras dan tidak sensitif, sungguh yang terjadi adalah pemandangan
yang sangat miris dan sulit diterima akal. Bagaimana dapat seorang
suami menelantarkan atau menyakiti isteri dan anaknya padahal mereka
adalah belahan dan buah hatinya, bagaimana pula ada pemimpin atau
pejabat yang berlomba-lomba mereguk kesenangan dan kemewahan dunia di
atas penderitaan rakyatnya dengan segudang dalih dan alibinya, padahal
mereka dipilih rakyatnya, lalu bagaimana si kaya bisa tega
mempertontonkan kekayaannya di hadapan si miskin yang papa tanpa
sedikitpun keinginan berbagi, padahal Rasulullah saw katakan, 'Kalian
dibela dan diberi rizki karena orang lemah di antara kalian.' Sungguh
mengerikan!

Di zaman ketika materi dan tampilan lahiriah semakin dipuja-puja,
sungguh kita semakin banyak membutuhkan manusia berhati burung!

Masih terngiang-ngiang di telinga, doa para imam dalam qunut witir
bulan Ramadan di masjid-masjid kota Riyadh, 'Allahumma laa tusallitt
alaina man laa yakhaafuka fiina wa laa yarhamunaa….. ya Allah, jangan
berikan kami pemimpin yang tidak takut kepadaMu dalam urusan kami dan
yang tidak mengasihi kami……' aamiiin…

Riyadh, Jumadal Ula 1431H
Abdulah Haidir
(diambil dari postingan Mauludi Ariesto di milist Muslim Korea)
Tuesday, April 20, 2010 0 komentar By: Rustanto

Pengalaman Berharga Mengawali Business Travel

Mengawali usaha menjadi travel agent ternyata tidak semudah yang aku banyangkan sebelumnya, melalui tulisan ini aku ingin menumpahkan pengalaman dan kejadian yang ternyata berharga untuk kemajuan usaha ini di masa yang akan datang;
1. Berawal dari iseng positif, ternyata keinginanku untuk membantu managerial dari angkasa tour ternyata bersambut, aku jadi lebih percaya diri untuk menulis business plan yang pernah kudapat di Negeri gingseng;
2. Ternyata aku memiliki ambisi setelah melihat peluang yang ada di kantorku khususnya, untuk lebih mengembangkan usaha ini dengan serius dan tidak terbatas pada apa yang sekarang sedang aku lakukan.
3. Menulis business plan dengan serius dan realistis ternyata tidak gampang, aku harus benar-benar memahami kondisi yang ada saat ini dan proyeksi kedepan agar tidak terlampau melambung atau terlalu cupet.
4. Pertama kali mendapat pesanan tiket buat temen ke Jayapura (dua orang) untuk urusan dinas, jumlahnya lumayan gedhe. Ternyata harus nekorin dulu untuk issued tiket, karena dananya cukup besar aku bobol kartu kreditku untuk (pertama kali dalam jumlah besar)
5. Tidak boleh ada kesalahan penulisan nama maupun mr/ms nya, karena ini akan berdampak dua hal, pertama ketika check ini kalo tidak sesuai ktp bisa berabe apalagi kalo tidak sesuai jenis kelaminnya; yang kedua jika salah namanya cukup fatal akan bermasalah dalam pertanggungjawaban tiket di bagian keuangan, wah bisa ndak dapat ganti atau kita yang justru malah bayar.
6. Aku juga pernah membatalkan tiket yang sudah di issued gara-gara kurang teliti menulis flight destination, mustinya Jakarta to Jogjakarta, ternyata kebalik, yahh….rugi deh baik material maupun moral (malu atuh…)
7. Meneliti jam keberangkatan juga perlu menjadi catatan tersendiri. Perlu ditanyakan jam berapa pelanggan menginginkan baik berangkat maupun pulangnya, perubahan jadwal (jam terbang) ternyata tidak mudah dan ribet, karena harus membatalkan tiket kemudian rebooking dan issued lagi, ini jelas akan mengakibatkan rugi waktu maupun dana;
8. Ada info dari temen tentang kelas /jenis tiket, karena kalo ada kelasnya dalah N (nancy) akan sangat susah untuk diubah jadwalnya;
9. Jangan sekali-kali memilih tiket promo, kecuali memang flight schedule nya benar-benar sudah fix, karena tiket jenis ini tidak bisa diubah.
10. Kebiasaan ada teman yang mencari tiket murah, untuk yang garuda dan Airasia, kalo jauh-jauh hari bisa dapat yang murah, tapi untuk yang laen belum tentu, so, penuhi aja untuk membantu temen.
11. Kesulitan dan kerepotan ngebook, issued tiket, cancel ternyata harus dilakukan dengan tenang dan sabar, karena kalo tidak kita akan stress dan kehilangan mood untuk melanjutkan usaha ini. Jadikan ini sebagai bentuk ibadah kita, untuk mencari rejeki yang halal dengan membantu urusan orang lain.
12. Ada telpon dari salah seorang pelanggan yang dia tidak bisa melakukan self check- in karena tidak ada nomor tiket, wah informasi baru nih, gimana ya cara agar dapat nomor tiket???
13. Ternyata aku maksimal hanya bisa melayani untuk 4 orang dengan harga tiket tidak lebih dari 2 juta pp, artinya perlu tambahan modal juga, ada yang siap bantu??? Tentu ada bagi hasil yang disepakati…
14. Pelajaran ini akan selalu bertambah dan akan ditulis terusss…...

Terbanglah ke angkasa…….Ca'm (Cepat, akurat dan Murah)
Wednesday, March 31, 2010 0 komentar By: Rustanto

Why Internet connections are fastest in South Korea




Editor's Note: Which 17 countries have faster Internet connections than the United States? See our Internet speed map.

By John D. Sutter, CNN
March 31, 2010 10:09 a.m. EDT

(CNN) -- People in the United States basically invented the Internet. So U.S. connections must be the fastest and cheapest in the world, right?

Not so much.

Broadband Internet speeds in the United States are only about one-fourth as fast as those in South Korea, the world leader, according to the Internet monitoring firm Akamai.

And, as if to add insult to injury, U.S. Internet connections are more expensive than those in South Korea, too.

The slower connection here in the U.S. costs about $45.50 per month on average, according to the Organization for Economic Cooperation and Development. In South Korea, the much-faster hook-up costs $17 per month less. An average broadband bill there runs about $28.50.

So why is U.S. Internet so much slower and pricier than broadband connections in South Korea? The question is timely, as the U.S. government pushes forward with a "broadband plan" that aims to speed up connections, reduce costs and increase access to the Internet, especially in rural areas.

Map: U.S. Internet is slower than Slovakia's?

The comparison between South Korea and the United States is not perfectly instructive, especially since "we probably won't ever be South Korea," said Robert Faris, research director at Harvard University's Berkman Center for Internet & Society.

"The whole political and social climate is so different, the geography is different, the history is so different," he said. "It's all pretty different."

With those caveats in mind, here are the five potential reasons U.S. Internet speeds are slower and more expensive than those in South Korea. This list was gleaned from interviews with broadband experts and from policy papers:

Korean competition

Countries with fast, cheap Internet connections tend to have more competition.

In the U.S., competition among companies that provide broadband connections is relatively slim. Most people choose between a cable company and a telephone company when they sign up for Internet service.

In other countries, including South Korea, the choices are more varied.

While there isn't good data on how many broadband carriers the average consumer has access to, "I think we can infer that South Korea has more [competition in broadband] than the United States," Faris said. "In fact, most countries have more than the United States."

Some academics, including Yochai Benkler, co-director of the Berkman Center, have criticized the U.S. government's broadband plan as not doing enough to create the kind of competition that is present in other countries.

In a New York Times editorial, Benkler says competition will reduce costs for broadband consumers.

"Without a major policy shift to increase competition, broadband service in the United States will continue to lag far behind the rest of the developed world," he writes.

Culture and politics

There are stark cultural differences between hyper-connected Korea, where more than 94 percent of people have high-speed connections, according to the OECD, and the United States, where only about 65 percent of people are plugged into broadband, according to an FCC survey.

The South Korean government has encouraged its citizens to get computers and to hook up to high-speed Internet connections by subsidizing the price of connections for low-income and traditionally unconnected people.

One program, for example, hooked up housewives with broadband and taught them how to make use of the Web in their everyday lives.

Parents in Korea, who tend to place high value on education, see such connections as necessities for their children's educations, said Rob Atkinson, president of the Information Technology & Innovation Foundation.

These cultural differences mean Korea has a more insatiable demand for fast Internet connections, he said. That demand, in turn, encourages telecommunications companies to provide those connections.

Faris, of the Berkman Center, said no one society has a stronger appetite for Internet connectivity than another. Korea's government simply has whetted that appetite, and provided the incentives to make high-speed connections accessible to a large segment of society.

Political culture has more to do with it, he said.

"The United States is a more litigious culture than others, and the power of the FCC [Federal Communications Commission] to regulate is not as strong here as it is in other countries," which means its less likely that the U.S. will pass policies to promote the growth of ultra-fast broadband.

Open versus closed networks

There is vigorous debate in the telecommunications world about the role "open networks" have in creating fast, cheap Internet connections.

The idea behind an "open" system is essentially that, for a fee, broadband providers must share the cables that carry Internet signals into people's homes.

Companies that build those lines typically oppose this sharing. A number of governments, including South Korea and Japan and several European countries, have experimented with or embraced infrastructure-sharing as a way to get new companies to compete in the broadband market.

The U.S. does not require broadband providers to share their lines, and some experts cite Korea's relative openness as one reason the Internet there is so much faster and cheaper than it is here.

The most important thing is that countries create a way for companies to enter the broadband market without having to pay for huge amounts of infrastructure, said Faris.

Population density

South Korea, with more than 1,200 people per square mile, is a lot denser than the United States, where 88 people live in the same amount of space, and where rural areas and suburbs are large.

The result for broadband? It costs less to set up Internet infrastructure in a tightly populated place filled with high-rise-apartments, such as South Korea, than it does in the United States, where rural homes can be great distances apart.

In both countries, copper wires tend to carry broadband signals from fiber optic cables and into the home. Data can travel fast on copper wire, but it slows down the farther it goes.

In South Korea, that's usually just from the base of an apartment building to a particular unit. In the U.S., copper wire may have to link a home with a fiber optic cable that's a mile away.

Korea had a plan ... a decade ago

In the 1990s, South Korea set a priority that it would be a highly connected country with a high degree of Internet literacy.

"They made this a priority 10 years ago and they've really executed on it," said Atkinson, from ITIF, the Internet policy think tank.

The country is still four to five years ahead of the U.S. when it comes to broadband policy, even as the United States tries to catch up, said Taylor Reynolds, an economist at OECD.

"Korea has long been a leader in broadband and in very fast broadband," he said. "And, in fact, the technology that Korea has used for probably the past four to five years is VDSL, and that's a technology that's now being put in by AT&T" in the United States.

Meanwhile, Korea is abandoning that technology in favor of the next big thing, Reynolds said. That likely involves bringing super-fast fiber optic cables straight into homes. And, according a recent report by the Berkman Center, that could make South Korean Internet 10 times faster than it is now.

Faris said Korea's clear-cut plan helped lead to its faster broadband speeds.

"A big difference is that Korea made a decisive move to expand Internet in the country," he said. "They said we want to be very good at connecting to the Internet. A lot of government money was thrown at it ...

"The U.S. has taken a fairly hands-off approach to the sector. They've left it to the private sector. There's been some money put into it, but not that much, on a per capita basis. We just haven't taken it that seriously."